Perkuliahan adalah kehidupan baru bagi setiap bekas siswa yang telah memilih jalan hidupnya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Mahasiswa menjadi label membanggakan bagi para putih abu-abu yang mulai melek sosialis. Berbicara tentang mahasiswa tidak lepas dari tugas utama sebagai tholabul ilmi. Mengutip salah satu firman Allah Swt yang artinya, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S Al-Mujaadilah:11). Dari penggalan ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan menurut kacamata agama khususnya islam bahwa orang-orang yang menuntut ilmu mendapatkan derajat yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memilih menjadi masyarakat antipatif. Sebagai pelaku pendidikan secara tidak langsung mahasiswa termasuk kategori yang dimaksud dalam ayat diatas. Orang yang menuntut ilmu.
Secara harfiah, maha berarti besar atau paling sedangkan siswa bermakna sebutan untuk seseorang yang menuntut ilmu. Jika dirumuskan secara menyeluruh mahasiswa dapat didefinisikan sebagai sebutan tertinggi bagi peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar pendidikan formal. Kampus adalah lembaga yang menaungi tempat terjadinya prosesi perkuliahan. Hal ini sangat berbeda apabila kita kaitkan dengan dunia sekolah yang baru kurang dari seratus hari kita tinggalkan. Jika dulu kita terbiasa dengan suasana yang masih bisa dikategorikan menjalani hidup sebagai remaja. Tidak untuk seorang mahasiswa atau mahasiswi. Sebagai peserta didik kita dituntut menjadi seseorang yang lebih dewasa. Bahkan dalam cakupan lebih luas kita dijadikan tonggak dari perilaku yang patut diteladani. Mahasiswa dipandang lebih keras sebagai materi pembangunan sumber daya manusia bagi bangsa yang merindukan kata damai sejahtera.
Tanggung jawab dalam bermasyarakat banyak menuntut sesuatu yang berbeda bagi kita yang saat ini dianggap sebagai pendamping masyarakat. Lebih jauh ke depan status kependidikan yang kita emban baru-baru ini seolah menjadi titik berat dalam sosialisasi kemasyarakatan. Tak dapat mengelak dari opini masyarakat yang telah terbentuk. Jika menilik sejarah, wajar saja apabila mahasiswa diberikan kepercayaan sebesar itu. Masih ingatkah tentang Arief Rahman Hakim yang menjadi sorotan sebagai pahlawan ampera atau Elang Mulia Lesmana dan kawan-kawan yang terkenal dengan aksi Semanggi mereka? Peristiwa penumbangan masa orde lama yang mengharu-biru. Mengganti payung rezim menuju reformasi yang digaung-gaungkan bertahun penuh peluh dan wicara.
Masa sebelum kemerdekaan lebih menggugah. Sekedar mengenang puncak awal terbentuknya semangat kebangsaan yang diprakarsai para pendiri Boedi Utomo. Mereka adalah bukti sejarah yang tak dapat terelakkan dari rekam peristiwa tentang makna sebuah perjuangan. Apa status yang tertera dalam kartu tanda pengenal mereka saat itu? Ya. Mahasiswa. Idealisme dan sosialisme adalah paham yang tak pernah absen mengiringi langkah mereka kala itu. Peduli apa tentang wacana orang-orang kala itu, jangankan harta jiwa pun tak segan mereka gadaikan hanya untuk satu tujuan. Merdeka dalam Kemerdekaan.
Kemandirian juga sering dikait-kaitkan menjadi ciri khas yang harus dimiliki oleh setiap pribadi mahasiswa. Kedewasaan dalam berpikir, menghadapi dan pemecahan sebuah permasalahan, dan pembangunan bangsa dalam lingkup tertentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Cerminan kesempurnaan bertindak dalam masyarakat menjadi tantangan yang harus siap dihadapi bagi kita saat ini. Ini hanya karena satu alasan, karena kita tidak hanya terdiri atas satu suku kata tapi dua suku kata dengan intonasi yang tekanannya penuh makna. Maha. Tanggung jawab sebuah nama sepertinya memang agak berat.
Kampus berbeda dengan sekolah. Wajib menjawab lantang, Ya. Perlu saya garis bawahi, kampus yang saya maksud adalah sebuah universitas. Tak mengenal seragam, peraturan informal bersifat controlling yang tak terlalu mengikat, sistem belajar, dan sosialisasi serta psikologis yang tercipta sangatlah berbeda. Kemandirian sebagai pribadi dapat tercermin dalam masa perkuliahan yang dijalani seseorang. Pepatah lama mengatakan mencari umpan, pancing, dan makan sendiri adalah gambaran kasar mewakili masa belajar yang berbatas tujuh tahunan ini. Ini hanyalah minoritas realita yang menjemput kita esok.
Semasa sekolah, mendapatkan angka empat adalah sesuatu yang memalukan mungkin, tetapi tidak berlaku untuk pembelajaran yang ada di kampus. Angka empat menjadi berharga berlian dalam proses pembelajaran dengan rata-rata nilai sebentuk apektif semasa sekolah dulu. Lebih-lebih bagi yang menginginkan namanya dipanggil dengan predikat yudisium sebagai cumlaude. Huruf A dan B menjadi pelukis senyum dalam masa-masa tidur yang pendek dan begadang panjang. Bagi yang terbiasa dengan angka-angka di setiap tugas dan ulangannya, sepertinya harus membiasakan diri untuk mengganti paradigma numerik menjadi verbal. Absenmenjadi kartu keramat yang wajib terisi dengan bubuhan tanda tangan atau paraf persetujuan sang Dosen sebagai bukti ketekunan kita sebagai penuntut ilmu.
Saat slogan posisi menentukan perstasi masih terdengar nakal walaupun mulai sayup menggema dalam jam-jam menegangkan semesteran atau ujian lain yang sedikit menyita fokus akal dan pikiran mau tidak mau ikut membantu adaptasi secara tidak langsung. Kompleksitas masa perkuliahan membutuhkan sebuah mutualisme tak hanya sekedar dengan teman-teman seangkatan, kakak-kakak tingkat, dosen dan orang-orang sekitar civitas akademia. Menjalin hubungan baik dengan hati sangatlah penting. Mengingat virus yang sudah menjadi masalah umum sering mengancam dengan sistem imun yang tinggi. Malas. Selain kontrol yangtak terlalu menjadi menu utama wejangan yang biasanya selalu jadi main course dalam dunia sekolah yang kita jalani dua belas tahunan belakangan. Mengalahkan diri sendiri ternyata lebih sulit daripada mengalahkan musuh manapun yang sifatnya eksternal.
Jika memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu atau dalam istilah yang lebih dikenal sebagai kuliah-pulang-kuliah-pulang rasanya kurang menantang. Waktu belajar yang bersifat jumping agaknya terasa bosan jika tidak diisi dengan kegiatan diluar jam kuliah. Mencari relasi diluar jam kuliah tak salah untuk dilakoni atau sekedar menyempatkan singgah ke sarana pendidikan kampus yang bermanfaat dapat dijadikan referensi. Penawaran yang lebih menarik lainnya adalah mencoba berkecimpung di dunia organisasi. Jangan terlalu paranoid dengan ancaman keteteran tugas utama sebagai peserta didik, kerena menurut pada ayat 2 pasal 57 Kemahasiswaan dan Alumni pada buku panduan Pedoman Unsri 2000 Bab II Peraturan Universitas dijelaskan bahwa mahasiswa berhak memanfaatkan sumber daya Universitas melalui perwakilan atau organisasi kemahasiswaan untuk mengurus dan mengatur kesejahteraan, minat dan tata kehidupan bermasyarakat. Sudah sangat jelas dasar hukum yang mendukung pentingnya keikutsertaan kita dalam organisasi kampus.
Banyak sekali organisasi yang tersedia di kampus, seperti Mapala, Kerohanian, Pramuka, Pers, BEM, dan himpunan-himpunan kemahasiswaan lainnya. Semua tergantung selera. Memilih yang mewakili jiwa merupakan pilihan yang tepat. Jangan pernah hanya sekedar mengikuti tren latah yang sering dilakoni dewasa ini. Menjadi diri sendiri lebih baik daripada hanya mengikuti keinginan orang lain. Menggali kemampuan dan minat yang ada dapat memberikan angin segar mengobati kepenatan yang sering mampir tanpa permisi.
Selain mendapatkan efek yang positif, jika kita mengikuti organisasi sesuai dengan kenginan hati maka enjoy dan fokus menjadi jawaban dari pertanyaan ketika kita menanyakan kemampuan memanajemen waktu sebagai mahasiswa aktif. Terlahir sebagai calon pendidik ketika memilih jurusan di kampus biru ini, kebutuhan public speaking kita bisa jadi menjadi momok yang cukup menantang. Berhubungan dengan berbagai jenis karakter dan latar belakang para siswa dalam dunia kerja membutuhkan tempaan yang tepat dan menjanjikan. Organisasi salah satu solusinya. Mengapa? Ini alasan yang sepertinya sudah tergambar bagi mayoritas orang sudah mengenal dunia organisasi. Dunia organisasi mengajarkan banyak hal tentang kepemimpinan.
Terlalu jauh mungkin untuk berbicara dalam lingkup dunia kerja, secara kodratnya manusia memang telah mempunyai kedudukan sebagai pemimpin. Paradigma Al-Qur’an yang menguatkan persepsi ini seperti yang diterangkan dalam Q.S Al-Baqarah:30 yang artinya, “Ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, Sungguh Aku telah menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi…” begitulah kira-kira penggalan ayat yang menerangkan makna leadership yang dikemukakan sebagai khalifah yang senada dengan makna kepemimpinan yang menjadi gaung utama dari sebuah organisasi.
Belajar membentuk dan mengatur orang lain menjadi hal yang mengasyikkan dalam dunia yang sering mempopulerkan orang-orangkonsisten mengembannya. Memahami karakter, melatih kepekaan terhadap lingkungan dan hal positif lainnya hanyalah sebagian kecil dari manfaat yang diberikan dari organisasi. Ini semua perlu dicermati dengan kadar yang wajar, karena semua yang terlalu tidak akan berdampak baik. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, menjadi mahasiswa terlalu diam itu merugikan terlalu aktif juga akan berimplikasi negatif.
Terdengar klise jika kita menginginkan IPK 3,5 keatas menjadi desert di setiap pengumuman nilai akhir tetapi juga menjadi mahasiswa yang dikenal dengan segudang agenda diluar jam kuliahnya. Tapi, tak ada yang salah dengan bermimpi besar. Menargetkan sesuatu yang besar dengan usaha yang keras pasti akan berbuah manis walaupun belukar dan duri menjadi teman dalam perjalanan menuju tangga kesuksesan. There is want, there is way.
Siapa yang tak mau lulus cepat, dengan nilai yang membanggakan, dikenal dalam oraganisasi kampus pula. Terlalu muluk? Sepertinya tidak. Jika saja manajemen waktu kita dalam kategori aman, karena yang membedakan suasana kampus adalah keberadaan kita menjadi seseorang yang dianggap wujudnya. Tantangan dalam masyarakat setelah masa-masa kuliah adalah kunci jawaban yang paling ampuh untuk menerangkan semua itu. Tapi, panggilan jiwa untuk terjun bebas menuju masyarakat yang berdendang sumbang tentang makna sosialis mahasiswa saat ini.
Dilema merupakan gulma yang kadang-kadang merapuhkan peranan mahasiswa saat ini. Hati menyuarakan turun ke jalan tanpa aksi anarkis yang sepertinya saat ini terlucut api politik yang menyulut halus sukma para aktivis kampus. Disisi lain, tuntutan studi yang keras terkadang jadi jalan buntu. Melihat lukisan perjuangan mahasiswa yang terpahat dari liputan media-massa membuat pergerakan mahasiswa seakan kehilangan ruh idealisnya. Terjangkiti krisis kepercayaan dan kehilangan sense of belonging yang semakin menambah daftar tunggu permasalahan yang mestinya terselesaikan dengan sumbangsih para tunas pembangun bangsa. Bukan sekedar turun ke jalan untuk membuat jalan terancam osteoporosis tak beralamat. Masyarakat masih merindukan idealisme yang sejati. Bukan sekedar berita kekerasan antara kepala dan hati. Aksi demonstasi tak berbuah perubahan selain perusakan sarana publik yang dibuat dari uang rakyat sendiri.
Mahasiswa sebagai agent of change memang menjadi harga mati bagi mereka yang berjiwa satria. Tak ada jalan yang tak berliku, memang. Namun, bukalah kembali cerita tentang Kongres Pemuda yang menjadi cikal-bakal sumpah pemuda yang saat ini pudar terlupa tergerus globalisasi yang lebih menarik untuk dipedomani. Ideologi berbangsa tak lagi menjadi jiwa yang dahulu menjadi senjata paling ampuh membakar jiwa perjuangan pemuda kala itu. Sulit menjadi pemilik 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan jika Rengasdengklok tak terukir menjadi sejarah perjuangan dalam kisah lain para pemuda.
Perubahan tak perlu mengacu pada bangsa diluar, karena sudah terlalu banyak teladan pada masa sebelum merdeka yang perlu disesuaikan dengan wajah bangsa hari ini. Tugas sebagai agent of controlling harusnya menjadi fokus utama dalam perjuangan sebagai mitra masyarakat yang cuci tangan terhadap kekuasaan. Bermitra dengan pemerintah agaknya mimpi di siang bolong untuk negeri yang katanya kaya ini. Memerankan adegan sebagai sumber daya manusia yang berkualitas adalah tanggung jawab bersama sebagai anggota masyarakat. Namun, bagi mereka yang awam akan sangat terbantu dengan adanya pedoman dalam menjelajah dunia birokrasi yang hangat menyapa dunia mahasiswa ini.
Setiap manusia terlahir dengan tanggung jawab yang telah dipilih sebagai jalan hidupnya masing-masing. Internal dan eksternal menjadi acuan penting dalam membentuk kepribadian masing-masing. Dunia mahasiswa menjadi singgahan baru menuju perjuangan hakiki dalam menggenggam dunia.
Ujung tahun yang ceria untuk penantian membahagiake di Seterio, 30 Desember 1992. Sesudem nyari-nyari dan nyusun-nyusun beberapo kato akhirnye, Rounnisa Aminy diberekke oleh Bakku Rosihan Naya waktu sudem 7 ari 7 malem Embikku, Najemah metuke aku dari rahimnye. Aku ini anak betino dewek di rumah sesudah didului oleh duo kakak-kakakku yang hebat-hebat. Sembilan taon sudem wong tuoku beranak duo ikok anak lanang benamo Alfidldlota Dama dengen Kasyfillah yang mak ini ari lah punyo keluargo kecik dewek-dewek. Waktu kecikku pacak dikatoke temasok indah, kerno aku tumbuh dalam kondisi keluargo dengan tetanggo yang kondusif. Cumen, kerno aku nih anak betino dewek dak salah kalo aku jadi budak betino yang agak tomboy. Kawan deketku yang dak laen tetanggoku jugo lanang. Aku kawanan dengen die dari kecik sampe tebesak. Maen layangan, ujan-ujanan,singit-singitan lah pasti jadi menu utama kamek pas ngukir masa kanak-kanak kamek. Aku dengen die ade panggilan khusus yang sampe sekarang idak berubah, malah mak ini ari banyak kawan-kawanku yang melok-melokan manggil aku dengen panggilan itu. Dak nyalahkenye soalnye kameksesekolah dari TK sampe kuliah ini. Cumen, pas kelas 4 SD die sempat pindah sekolah tapi akhirnye ketemu lagi pas kelas enem di SD Negeri Percontohan Pangkalan Balai. Lanjut ke SMP Negeri 1 Banyuasin III, trus sempat sekelas lagi waktu kelas X SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III. Kuliahnye jugo samo-samo di Universitas Sriwijaya, tapi beda kampus be. Aku di layo, die di Palembang. Itu cumen sekelumit cerito jaman aku kecik dulu.
Pas lah jadi ‘gadis’, alhamdulillah aku mantepke niat untuk beguyur jadi muslimah. Mungkin sejak waktu itu jugo sifat tomboyku mulai agak belari dikit-dikit. Tapi, bukan berarti ilang galo sifat tomboyku itu. Aku mulai bekedurung sejak masuk SMP. SMP Negeri 1 Banyuasin III yang sebenernye setengah hati kumasuki. Yoh, dak laen kerno aku sebenernye kepengen masuk pesantren di Tangerang, tapi berhubung Embikku ngeri ngelepas aku disano dewean jadi kuturuti be kendak die. Alhamdulillah aku jadi yang pertamo pas tes masuknye, sejak itu aku jadi semangat untuk sekolah disitu. Ketemu dengen guru puisi yang sudah kuanggap Embikku dewek, jadi pemimpin di sekolah, jadi yang pertamo di setiap raporku membuat aku jadi besyukur dengan jalan yang dipilih wong tuoku nih. Bener uji pepatoh lamo ‘Restu orang tua itu berkah’. Aku makin nyaman pas banyak lomba-lomba yang mendidikku dengan arti menang dan kalah. Terus terang be, jaman SD dulu aku tu wong yang dak galak kalah kalo lomba. Itu salah satu sifat burukku yang mak ini ari lah punah seiring berjalannye pikiranku.
Walopun disekolah aku banyak behubungan dengan wong banyak, tapi pas SMP aku dikenal wong dengan sifat pemaluku. Aku susah nian yang namonye negur wong duluan. Istilahnye tuh dak galak mulai duluan, tapi kalu lah diajak wong ngomong aku wongnye asik kok. Sekarang aku agak dak betah dengan sifat itu, jadi dikit-dikit mak ini ari aku lah ngekes sifat itu dari kepribadianku dan mulai berubah jadi wong ramah walopun agak susah. Jutekku tu saro nian ngilangkenye. Tapi katek yang salah dengen makno mencubo. Kalu uji guruku pas SMA dulu ‘Mencoba sesuatu tetapi tidak berhasil meraih yang diharapkan bukanlah kegagalan tetapi kegagalan sejatinya adalah disaat kita tidak pernah mencoba sama sekali’. Nah pakem nian motivasi itu, agak nyambung dikit lah dengan motto idupku “Beranilah menanti, karena itulah juangmu”. Singkat cerito kito harus besabarlah dalem idop nih.
Aku jugo wong yang keras kepala, kagek ade sikok cerito lucu sekaligus ngesenke diakhir cerito tentang kekerasan kepalaku ini. Mungkin kerno sifat manja sebagai anak betino semato wayang di rumah. Tapi, kalo masalah keperluanku aku paling sungkan dianggep budak kecik. Aku sungkan nian kalo harus direwangi terus-menerus untuk ngurusi hal yang menurut aku pacak ngawekenye dewek. Kalu uji embikkuaku ni agak berani walopun aku betino. Maklum be efek masa kecik yang lah kucerito dipucuk tadi. Yo, aku dak galak be jadi betino yang terlalu manja walopun aku anak ujok. Aku temasok wong yang moody. Kalo tepeci moodnye yoh asik, tapi kalu moodnye lagi jahat dem tecugak nian. Itu pendapat yang kukutip dari kawan kostku yang lah bekawan dengan aku sejak kelas tigo SMP. Nah itulah kiro-kiro aib-aibku.
Kalu bekawan aku seneng nian bekawan dengan segalo wong dengen kepribadian dan latar belakang idop yang macem-macem. Kalu dibuat daftar aku pernah bekawan dengan preman sampe kiai, wong populer sampe minderan. Pokoknye aku men bekawan dak mandang dari luar dan latar belakang idopnye. Milih aman dalam begaol. Tapi, prinsip bersahabatku masih mak lamo. Aku bekawan dengan segalo wong tapi selektif jugo untuk milih sahabat. Walopun seneng melok pengajian untuk kebutuhan rohaniku tapi aku nih temasok golongan STMJ, Sholat Terus Musik Jalan. Aku seneng nengerke musik, alirannye sih Jazz, Rapp, RnB, Pop, Daerah jugo. Online jugo jadi gawe yang dak pernah bosen untuk aku lakuke. Ade sikok hobi aneh yang kupunyo, aku seneng nian nyigok gerimis. Kalu lagi ade inspirasi, aku jugo seneng ngabisi tinta pena atau dak mecet tuts-tuts laptop untuk belajar nulis. Selain sebagai caro lain curhat alias ngungkapke perasaan, nulis jugo hobi laenku selaen maco.
Kalu dijingok-jingok dari hobiku aku nih temasok yang seneng dengan dunio jurnalis yeh. Yoh mak itulah kiro-kiro. Aku kagum nian dengen wong-wong dibalik layar mecak sutradara, penyiar radio, tim kreatif, wartawan, dan guru. Nah, ngapo guru dikatoke gawean dibalik layar yeh ? Padahal kan dedape tuh behubungan langsong face-to-face dengen murid-muridnye. Ehm, aku punyo persepsi dewek nah. Menurutku, guru jugo gawean dibalik layar. Di balik layarjalan idop wong dewek-dewek. Masalah sukses ato idak itu tegantung opini dan usaha wong dewek-dewek.
Teringet aku, tadi ken aku nak ngenjuk sikok cerito lucu di akhir Catatan Pelangiku ini. Nah cubo simakke dulu yeh. Pecayo dak dengen kekuatan do’a ? Pecayo jugo dak dengen pepatoh lamo men omongan itu do’a. Nah, men aku pecayo nian koh. Ini buktinye. Aiy langsong be ken. Jadi mak ini ceritonye. Saking kerasnye kepalanku ni, waktu ade sosialisasi masalah bimbel disekolahku aku langsung bepikir jaoh. Takut nian dak lulus SNMPTN jalur undangan, padahal keluargaku terutama Embikku lah agaknye kurang setuju dengen keputusan ‘aku nak bimbel’ itu kerno sebenernye beliau lah ado firasat bagus untuk usaha undanganku ini walopun dak diomongkenye dengen aku. Aku tau men die dak galak ngecewake aku. Akhirnye aku jadi bimbel jugo selamo ngisi waktu nunggu pengumuman jalur undangan. Di sikok ari, pas aku balek naek bus jurusan Sekayu yang ngelewati rumahku yang bealamat di Jalan Masjid Al-Hafidz No 23 RT 10 RW 03 Lk. II Kelurahan Seterio, Banyuasin. Aku kebenaran sebangku dengen wong tuo yang nak nganterke cocongnye ke rumah anaknye di Sekayu. Itu yang aku tangkep dari obrolan kamek diawal perjalanan kamek. Nyek itu ngajak aku ngomong sepanjang jalan. Mak ini kiro-kiro cuplikannye.
“Balek kuliah, Nak ?”. Die mulai omongan waktu itu.
Sebernernye aku agak ngantuk waktu itu, jadi aku mutuske nyawab sekenonye be. Sebab wong-wong yang galak betanyo di laen perjalananku sebelumnye banyak dak pacak mbedake bimbel untuk kuliah dengen bimbel pendidikan dan pelatihan. Jadi, aku nyawabnye sekenonye be.
“Ehmmm, iyo Buk ^_^” Agak ragu-ragu aku nyawabnye.
“Kuliah dimano ?” tanyonye lagi
Aku diem. Bingung nak nyawab apo ? senjata makan tuan. Laju aku teringet omongan Embikku, ‘omongan tuh Do’a My’. Aiy, kupikir Nenek ini dak bakalan nanyo lebih lanjut lagi, jadi kujawab be…
“Unsri Buk ^_^” Dalam hati bekato ‘Amien Yaa Allah’
“Oh, Alhamdulillah. Jurusan apo ?” nah, pecah utak aku. Dem kunikmati be kebohongan ini.
“FKIP Biologi Buk ^_^.” Berharap dak betanyo lagi, kerno aku takut nian dengan aksi mengkhayalku ini.
“Yo..yo… semester berapo ?” aduh. Ibu ini mbuat Sang Atid dak berenti nulis catetan dusoku be.
“Semester duo Buk ^_^” dem, nyerah aku. Aiydah nyesel rasenye.
“Oh, jadi kalo sabtu balek yeh ? berapo ari kuliahnyo ?” Okeh, lah telanjur basah yosudah mandilah be sekalian. Mudah-mudahan omonganku ini diaminke malaikat, pikirku waktu itu.
Bebekal cerito dari kawan yang jugo lah kuliah di Unsri, kujawab be…
“Iyo Buk, kan kami kuliahnye senin-jum’at kalo sabtu libur, jadi kalo kangen balek aku Buk kalo sabtu.” Ops. Ngurut dado aku. Akhirnye inilah kebohongan terakhirku. Pas sesudem ngelakuke duso bejibun itu aku langsong ngaku duso di sujud asharku pas nyampe rumah.
Beberapo hari sesudem aku dinyatake lulus jadi sikok dari ribuan calon pemegang KTM PTN khususnye Unsri aku baru berani becerito dengan Embikku. Men uji Embikku yang ngerakke bibirku waktu itu tu malaikat. Sikok petando yang muat aku ngeraso beduso nian tapi aku dak tepikir nyampe kesano.
Beh, lah nak limo lembar yeh aku becawa. Padahal cumen disoroh 2 lembar. Aiy dak papolah, itung-itung untuk bagi pengalaman selaen ngenalke diri. Semoga aku pacak diterimo disini dan ngewujudke cita-citaku untuk mbanggake wong tuoku. Amiin.
4 september 2011. Sebernanya males banget harus balik lagi ke rumah kedua ini. Tapi yah mo gimana lagi. Hidup harus terus berjalan anak muda. Gua udah jadi mahasiswa sekarang. Jauh dari ortu emang udah jadi harga mati yang sulit dielakkan. Pas ngeliat kamar tadi sore? Ampun dah nih kamar. Berantakan amat yak ? gimana nggak semua tetek bengek dari kampung tercinta tupah ruah tanpa diabsen mongol disetiap sudut kamar.
okeh. udah tanggal 1 september. lima september harus bersahabat dengan memori dan siap tempur dibangku-bangku ber45 orang itu. kuliah perdana. aduh gimana sih rasanya. asli penasaran deh. yang jelas sepertinya kado dari Bundaku itu harus bener-bener dimanfaatkan.
targetan bulan ini :
*gak ada bolos-bolosan kuliah gara-gara kebiasaan telatku yang harus dimusnahkan :D
*dapet IP yang sangat memuaskan :) empat koma nol nol aja cukup kok yaa Rabb :D
*jadi anggota Perpus :)
*cari info beasiswa
*ikut rekruitmen organisasi kampus yang sudah terngiang-ngiang diotakku ^_^
kayaknya itu dulu yang jadi fokus utamaku bulan ini. mudah-mudahan september ini beneran september ceria. amiin ^_^ untuk nama yang membuatku 'ada' i love you
widih, alhamdulillah yaa #gayasyahrini gak kerasa udah lebaran lagi. padahal rasanya baru kemaren puas-puasin jalan2 sama my enj #hahaha. eh, taunya lebaran kali ini asli jadi anak rumahan. hhiks :(. cuma sanjo (berkunjung) kerumah my big famz dari sebelah Ayah trus nungguin kalo-kalo ada siapa gitu yang kerumah. hhha
nyesel deh gak ikut sholat dengan ayah. toh disinijuga gak liat kamu sama sekali. hhuhu :p. nah kangen juga yaa aku sama kamu kakak jelek. hhihi. kapan married uiy ? jangan gak ngundang yah. hemm... cinta sejati adalah jika kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, walaupun tak bersama kita. #ciyeciye.
sekarang bolak-balik deh si Nurani ini. kadang yang ini, kadang yang itu. kadang nyastra kadang ngombal. gak ada tampang-tampang mo masuk Barokah bener nih anak. ihiy :D. maklumlah, mimikri banget saya ini. kalo lagi sama yang gila ikut-ikutan gila, tapi giliran syuro' bagaikan wanita tak terdeteksi adam. hahha :D
hidup itu indah sist, jangan terlalu dibawa susah walaupun susah adalah nikmatnya bersyukur. #cekile #sokbijak.
tapi kayaknya ini minggu-minggu terakhir pra kesibukanku didunia kampus. bener-bener gak nyangka tanggal 4 Sept ini udah cabut lagi dari gubuk kami ini. meninggalkan sesuatu yang belum kudapati. aku juga inginkan kesan atau sekedar senyummu sebelum berkutat dengan segala kegilaan menelaah setiap teori-teori dan rerumus yang renyah menyapa. ihihihi :D
wah ini ngepas tanggal 1 sept yaa :)
seperti harus meng-close sesi ini dan beralih pada topik lain.
R.aut senja dekap Sang Bunda
O.nak menari dahi Sang Ayah
U.ngkap makna dalam cerita
N.ilai budi dalam berkata
N.isa rabu dalam purnama
I.ngin gapai bintang dalam kerikil tajam
S.aat surya berdamping hujan
A.tau pelangi bersinar kala malam menyapa
A.ntara rindu.rindu yang mengkristal
M.eminjam puisi di sepertiga malam
I.roni bercermin dalam fatamorgana
N.yanyian subuh dalam dzikir
Y.ang bertarung dalam indah dunia